Sidoarjo Mulai Galakkan Gerakan Nol Sampah

0
284
advertorial

Beritahu – Fakta bahwa Indonesia telah memiliki komitmen pada dunia Internasional, untuk mengurangi jumlah emisi sampai 29% di tahun 2030 tidak diketahui oleh masyarakat luas di Indonesia. Dan sampah adalah penyumbang emisi terbesar di negara ini.

Isu persampahan telah menjadi isu global, di mana salah satu fenomena yang marak belakangan adalah ditemukannya ikan paus mati dengan banyak sampah plastik di perutnya. Bahkan diprediksi pada tahun 2050 jumlah populasi sampah di laut melebihi populasi ikan.

Solusi persampahan Indonesia hanya bisa diselesaikan secara bersama atau gotong royong. Dan kesadaran masayarakat untuk memilah sampah menjadi faktor utama agar permasalahan emisi karbon di negara ini bisa berkurang. Salah satu caranya adalah pengelolaan sampah di TPS (Tempat Penampungan Sementara) harus dilakukan dengan metode yang ramah lingkungan dan berdampak nyata, bahkan jika memungkinkan tidak perlu ada buangan sampah ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir), karena telah terkelola dengan baik dan tuntas di TPS.

Seperti diketahui, permasalahan sampah di TPA juga kompleks, mulai kebakaran, longsor, hingga ke kesehatan warga sekitarnya. Semua dikarenakan daya tampung TPA terbatas, sehingga perlu dibuka kawasan TPA yang baru.

Menyikapi fakta-fakta di atas, maka kami dari Komunitas Sahabat Bumi menggelar PEKAN ENVIRONMENT DAY, yang dimaksudkan sebagai satu wadah sosialisasi dan edukasi persampahan bagi warga di Surabaya dan Sidoarjo, dan warga di Waru pada khususnya.

Acara seminar yang dibuka tanggal 1 Juli 2019, dan bertajuk “ZERO TO LANDFILL” yang akan dihadiri oleh stakeholder terkait, perangkat desa serta kecamatan, pegiat sampah di Jawa Timur dan juga warga pada umumnya. Rencananya seminar akan dibuka oleh Bupati Sidoarjo.

Narasumber pada acara seminar ini antara lain Sarah Doyle dari NGO Eqwiphubs – Canada, yang akan memaparkan tentang kondisi persampahan dan regulasi persampahan di negaranya. Narasumber lain adalah dari DLHK Sidoarjo yang juga akan memaparkan tentang kondisi persampahan yang ada di Sidoarjo serta target-target yang disusun oleh Pemda Sidoarjo.

Dan terakhir akan ditutup oleh Narasumber dari TRB dari Yogyakarta yang akan menjelaskan solusi sampah sampai habis terkelola di TPS, tanpa harus membuang ke TPA. Satu tujuan dari diselenggarakan seminar ini adalah satunya persepsi dan paradigma tentang sampah dan penanggulangannya, serta diharapkan wacana yang telah disampaikan selama seminar dapat di follow up sehingga tercapai kondisi kawasan yang dapat dikategorikan Zero to Landfill (tidak membuang sampah ke TPA).

Pada kesempatan ini Komunitas Sahabat Bumi akan mengenalkan satu metode olah limbah organik yang terbaru, di mana limbah organik cukup diproses selama satu jam sudah siap pakai, baik sebagai media tanam maupun sebagai pakan ternak maupun ikan. Juga ada demo penggunaan alat yang ramah lingkungan ini, serta aplikasinya langsung sebagai pakan ayam maupun ikan. Dimana kami juga akan mengenalkan sistem ternak ayam dan ikan yang terpadu di acara ini.

“Selama sepekan, kami menyelenggarakan bazaar aneka produk dengan konsep minim sampah, dimana para tenant bazar tidak menyediakan tas plastik cuma-cuma untuk pengunjung, sangat dianjurkan pengunjung untuk membawa sendiri tas belanja dan wadah makanan untuk berbelanja di bazaar ini”, ujar  Founder Komunitas Sahabat Bumi Wulansary.

Selain seminar, Komunitas sahabat bumi juga menggelar rangkaian acara hingga tanggal 6 Juli 2019 di tempat yang sama. Seperti Garage sale untuk mendorong pengunjung tidak gengsi membeli barang second dengan tujuan menunda usia barang untuk menjadi sampah.  Kids Corner yang menyediakan aneka mainan tradisional, mulai dari ular tangga raksasa, egrang bambu, egrang batok kelapa, lompat tali, dakon, bekel, dll. Kids Corner ini bekerjasama dengan teman-teman dari Kampung Dolanan Surabaya.

Berbagai jenis workshop juga diselenggarakan di event ini, untuk mengedukasi peserta tentang beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah munculnya sampah atau meminimkan jejak karbon yang muncul. Jenis workshop yang disuguhkan antara lain:

– Natural Cleanser, mengajarkan cara membuat bahan pembersih baju, piring, lantai, kaca, dll dengan bahan-bahan alami.

– Budi daya Ikan dalam Tong, mengajarkan budidaya ikan di halaman rumah. Tidak membutuhkan lahan yang luas. Dan menghindarkan kita dari paparan microplastik yang mulai mencemari sungai dan lautan.

– Budi daya Jamur Merang skala rumahan, mengajarkan memanfaatkan limbah organik rumah tangga untuk dijadikan bahan untuk membuat jamur merang untuk dikonsumsi.

– Homade Personal Care, mengajarkan cara membuat sabun, sampo, pasta gigi, bedak, UV sunscreen, face cleanser, dll untuk pemakaian pribadi, tujuannya untuk lebih sehat dan tidak menimbulkan sampah kemasan.

– Ecoprint, mengajarkan membuat batik dari bahan-bahan daun dan bunga, yang sekarang sedang tren.

–  Terapi Herbal Keluarga, mengajarkan berbagai ramuan herbal organik untuk kesehatan keluarga, mengobati penyakit-penyakit umum yang biasanya terdapat di anggota keluarga.

– Ramban/foraging, mengenalkan aneka tanaman liar yang ternyata adalah sumber pangan yang bernutrisi baik. Sebuah tradisi lama yang hampir punah, juga merupakan upaya melestarikan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Juga akan diputar film dokumenter tentang ramban.

– Ecobrick, mengajak semua orang bertanggungjawab terhadap sisa konsumsi berupa plastik, agar dapat disimpan dan diamankan, lalu dibuat untuk bahan furniture maupun bahan bangunan. Teknik sederhana yang bisa dilakukan oleh segala usia.

– Yang terakhir ada 3 jenis wokrshop untuk anak-anak, yaitu COmpost Art, Membuat Totebag, dan terakhir menghias Totebag dari bahan alami.

Acara lainnya adalah lomba anak-anak yaitu lomba pilah sampah an-organik untuk anak TK, serta lomba mewarnai dari bahan alami untuk TK dan SD. Acara penutupan juga diramaikan oleh performa Fussion Jazz Surabaya. (bi1)

Harapannya, semua pengunjung senang dan mendapat paradigma baru tentang cara kelola sisa konsumsi mereka masing-masing. Pengunjung yang datang akan disambut dengan sederetan foto yang menggambarkan kondisi sampah di lautan, di TPA, aneka satwa yang menjadi korban buangan sampah plastik yang tidak bertanggungjawab, juga kebakaran yang ada di TPA, yang diharapkan menjadi satu shock terapy terbaik untuk mengubah pemikiran dan pemahaman tentang budaya menyampah selama ini. Acara ini diselenggarakan oleh Komunitas Sahabat Bumi dan disupport oleh developer Damai Putra Grup, Generali, PT. Bimasakti, Pomosda, Tani Remen Budaya, CV.Timdis, Hotel Zest Surabaya, Eqwiphubs, dan warga Delta Sari.

Masyarakat harus tahu dan paham perihal sampah yang mereka hasilkan sehari-hari, dan berhak tahu bagaimana pengelolaan sampah yang dilakukan di sekitarnya serta dampaknya pada kesehatan jika tidak terkelola secara aman dan baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here