Meningkatkan Percaya Diri Anak Berkebutuhan Khusus Dengan Mengajak Pentas Tari Balet

0
119
advertorial

Beritahu – Mengadaptasi dari karya terkenal dari Hans Christian Anderson, Premiere School of Ballet (PsoB) unjuk  kebolehan menggelar  tari ballet  berjudul ”The Red Shoes” di gedung  Ciputra Hall Performing Arts Centre Surabaya. Jumat Malam (06/09/2019).

PsoB mengundang YPAC (Yayasan Pembinaan Anak Cacat) Surabaya tidak hanya sebagai penonton saja, namun mengajak anak berkebutuhan khusus binaan mereka untuk mempersembahkan 3 nomor tari dan lagu.

Principal sekaligus Artistic Director PsoB Sylvi Panggawean mengatakan, melalui pentas seni balet ini,  kami ingin berbagi kebahagiaan dengan anak binaan YPAC dan saling menginspirasi.

“Memotivasi semangat satu dengan yang lain serta mengulurkan tangan dan sedikit membantu untuk kelangsungan pengembangan pembinaan di YPAC Surabaya”, kata Sylvi. Kamis (05/09/2019).

PsoB mengemas cerita The Red Shoes hingga menjadi tarian ballet full selama 80 menit. Dikoreografi oleh Sylvi Panggawean, ST, ARAD, RAD (TC) dan Lie Chen, RAD (TC), tarian ini akan ditampilkan oleh sekitar 125 murid mulai usia 3 tahun sampai dewasa.

Dengan pemeran utama Sherry yaitu Melisa Sugianto, S.Si, ARAD (24 tahun), dan Kevin yang diperankan oleh Michael Wiradinata (17 tahun).  Penari Premiere School of Ballet akan membius penonton dengan kelincahan penampilan dan kemampuan ballet mereka dengan balutan kostum yang apik.

The Red Shoes menceritakan sekelompok gypsy yang suka berkelana dan nomaden, hidup mereka sungguh bahagia dipenuhi canda tawa dan tari-tarian. Sherry dan kelompoknya berkelana ke Perancis untuk menghadiri Festival Gypsy.

Sesampainya di lembah di luar kota Paris, kelompok ini pun terlelap karena kelelahan. Tengah malam, beberapa tikus liar mencuri makanan yang tersisa. Namun usaha mereka digagalkan oleh tikus sahabat Sherry.

Pagi pun tiba.  Sekelompok pemuda gypsy tak dikenal yang dipimpin Kevin datang menghampiri kelompok Sherry. Mereka saling berkenalan dan cinta tumbuh di hati keduanya. Sebagai tanda cinta, Kevin memberi hadiah sirkam untuk Sherry. Ayah Sherry meminta anaknya untuk  mengirimkan pita-pita sepatu penari ke Royal Theatre. Sherry pun berangkat.

Sesampainya di Royal Theatre yang megah, Sherry masuk perlahan dan tak sengaja menemukan studio ballet, dimana Martina, penari nomor satu di Royal Theatre, sedang berlatih akhirnya marah ketika melihat kehadiran perempuan gypsy tersebut.

Dan tak diduga,  datanglah pemilik Royal Theatre yang sangat menyayangi Martina. Saat melihat Sherry hendak keluar studio, sang pemilik memberhentikannya, kemudian menyuruhnya untuk menari dan memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam audisi pementasan ”Swan Lake” beberapa hari mendatang.

Sherry mengiyakan permintaan tersebut dan meninggalkan Royal Theatre.  Dalam perjalanan pulang, Sherry melewati sebuah toko sepatu ballet.  Rasa penasaran membawanya masuk. Disanalah terpajang sepasang sepaty merah yang memikat Sherry. Si pemilik toko membolehkan Sherry untuk memiliki sepatu itu, asalkan Sherry menyerahkan sirkam yang dipakainya. Dengan rendah hati, Sherry menolak tawaran tersebut, dan meninggalkan toko untuk segera kembali merayakan Festival Gypsy.

Inti dari cerita ini adalah, rasa percaya diri Sherry digantungkan pada sepasang sepatu yang dipercaya dapat membuat pemakainya menjadi lincah dan bergerak indah.

“Ceritanya, sepatu ini memiliki sihir yang dipercaya dapat membuat pemakainya menari dengan sangat indah”, papar Sylvi saat gladi bersih The Red Shoes.

Selain menceritakan dongeng yang dikemas menjadi tarian balet, acara ini juga untuk mendorong rasa percaya diri bagi mereka yang dianggap mempunyai kekurangan dalam hidup mereka.

“Kadang orang kan ada yang merasa kecil hati dengan kemampuannya. Nah melalui pementasan ini, kami ingin siapapun itu lebih percaya pada dirinya sendiri dalam berkarya atau berbuat sesuatu”, tambah Sylvi.

Acara ini juga akan diwarnai penyerahan donasi yang diserahkan kepada YPAC. “Adanya donasi itu kami harap dapat mengoptimalan kegiatan belajar – mengajar di YPAC Surabaya”, pungkas Sylvi. (bi1)

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here