Mengenal Sejarah Kota Buaya Dengan Surabaya Heritage Track

0
120
advertorial

Beritahu – Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki keunikan dimana perkampungan justru menjadi bagian penting dari eksistensi kota. Denyut kehidupan kota ini ditengarai bermula dari sepanjang Kalimas, seperti tercantum pada peta abad ke-9 yang menunjukkan adanya pelabuhan kuno bernama Dadungan di hilir Kalimas dan diperkuat dengan penyebutan kata çurabhaya yang berlokasi ujung Utara Jawa Timur pada Prasasti Trowulan 1 dan Prasasti Canggu.

Pada abad 16 Surabaya merupakan sebuah kadipaten yang telah menjalankan fungsi ideologis, administratif, politik, dan ekonomi secara dominan dibanding daerah lain di sekitarnya. Penataan tata kota diperlakukan selayaknya sebuah organisme hidup sesuai pola kosmologi Jawa sehingga mencetak perkampungan dengan posisi yang disesuaikan berdasarkan fungsi serta aktifitas penduduk yang menghuninya.

Di tahun 1625, Mataram melakukan serangkaian serangan ke Surabaya, dan lebih dari satu abad kemudian, Belanda mengambil alih kekuasaan Surabaya dari Mataram setelah adanya perjanjian politik dengan Pakubuwono II pada tahun 1743. Hal ini memicu terjadinya perubahan struktur perkampungan dan hilangnya bukti arkeologis keraton secara berangsur-angsur.

Melalui program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) ‘Napak Tilas Kampung Keraton’ yang diadakan mulai  13 Desember 2018 – 16 Januari 2019, trackers diajak untuk menelusuri sejarah kampung pada masa keraton Surabaya dengan mengunjungi tempat bersejarah terkait, yakni Kampung Keraton, Kampung Bubutan, dan Kampung Lawas Maspati.

Dengan arti ‘Menelusuri Jejak Warisan Surabaya’, program SHT yag dimulai  tahun 2009 dengan konsep tur keliling kota menggunakan bis bermodel kereta trem,  yang pernah berjalan di Surabaya tempo dulu. Tracker (penumpang bis) dapat menikmati dan mengenal sejarah bangunan cagar budaya, seperti kisah Babad Surabaya, serta mempelajari kekayaan ragam budaya khas Arek yang menjadi ciri khas Surabaya.

Sejak tahun 2010, SHT sudah menggelar 44 tur tematik dan mengunjungi lebih dari 70 bangunan cagar budaya, diantaranya museum, institusi pemerintahan dan swasta, tempat peribadatan, monumen, kampung, pasar, perpustakaan, pabrik, dan lain sebagainya,  sehingga menjadi salah satu daya tarik pengunjung. (bi1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here