Ketua IWAPI Surabaya Berusaha Atasi Keterbatasan UKM

0
230
advertorial

Beritahu – Menjadi kaum dhuafa memang bukanlah suatu pilihan bagi Endang Sukarti (60 th), melainkan sebuah perjalanan hidup yang harus dijalaninya dengan berjualan Es Degan Hijau di tanah aset pemerintah Kota Surabaya di lapangan voli depan Kecamatan Rungkut sejak tahun 2006.

Meskipun hidup dengan segala keterbatasan, Endang tetap bersemangat menjadi UKM di lapangan voli yang dulunya dipakai sebagai tempat berjualan pedagang kaki lima. Sebanyak 13 toko semi permanen dulu ada di lokasi ini, namun karena kebijakan Pemkot Surabaya maka 12 diantaranya terpaksa digusur dan direlokasi.

Saat peristiwa penggusuran tersebut sekitar tahun 2016, Endang Sukarti mengiba kepada SATPOL PP agar dirinya tetap bisa berjualan di lapangan tersebut, karena dirinya tidak mau direlokasi sebab tidak mempunyai uang untuk sewa tempat baru dan tak punya tempat tinggal lain selain di warungnya.

“Aku mengiba kepada Pak Satpol PP, kalau aku tidak punya uang dan tempat tinggal selain disini. Akhirnya kepala Satpol PP waktu itu merasa kasihan dan memberitahu pak Camat, dan akhirnya memberikan kesempatan kepada saya untuk tetap berjualan disini”, kata Endang.

Perempuan yang dikarunia  2 anak dan sudah berkeluarga tersebut, akhirnya dibiarkan pihak SATPOL PP dan Kecamatan Rungkut Surabaya untuk terus berjualan di taman yang kini digunakan sebagai lapangan voli bersama suaminya yang kini telah meninggal akibat diabetes. Namun minim fasilitias seperti ketiadaan listrik, atap warung yang bocor ketika hujan tak menyurutkan semangatnya berjualan es degan hijau dan minuman lainnya, meski dengan kondisi pengapuran tulang yang harus dideritanya sejak tahun 2005.

“Ya mau gimana lagi mas, mau gak mau dengan kondisi kaki sakit gini akibat pengangguran. Yang penting bisa jualan dan mendapatkan rejeki untuk makan walaupun yang didapat sedikit, dan saya mengucapkan terima kasih kepada pak POL PP dan Kecamatan yang tetap membolehkan saya berjualan disini”, tambahnya.

Menurutnya jualan sekarang sangat berbeda dibandingkan dulu, jika sebelum warung lainnya digusur dirinya bisa mendapatkan omset 250 Ribu Rupiah, kini mendapatkan keuntungan bersih sebesar 30 Ribu Rupiah untuk dibawa pulang itu sudah cukup bagus.

“Dapat 125 Ribu itu sudah bagus mas, dan kalau dipotong biaya kulakan paling sisa 30 Ribu saja. Yang penting bisa cukup buat makan, saya sudah bersyukur”, kata Endang dengan mata berkaca – kaca.

Bagi Ketua IWAPI Surabaya Reny Widya Lestari, semangat Endang Sukarti untuk terus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan segala keterbatasannya sebagai pelaku UKM, harus ditiru siapapun agar tidak mudah menyerah. Dan dirinya mengapresiasi pemerintah daerah seperti Kecamatan Rungkut yang masih punya kepedulian kepada rakyat kecil.

“Menurut saya bagus ya, apa namanya kepedulian pemerintah di tingkat kecamatan untuk memberikan kesempatan, tetapi kalau memang bisa lebih banyak lagi, misalnya di sekeliling lapangan ini masih bisa dimanfaatkan untuk UKM daripada berjualan di pinggir jalan, lebih baik diberikan tempat dan diberikan fasilitas”, ujar Reny ¬†yang nyaleg DPRD Kota Surabaya Dapil 3 bernomer urut 3 dari partai PAN tersebut.

Namun minimnya fasilitas yang dimiliki UKM seperti Endang, tentunya harus dicarikan solusi bersama untuk menaikkan harkat hidup UKM Perempuan. Dan hal tersebut sesuai dengan visi dan misinya di dalam organisasinya maupun kebijakannya kelak ketika menjadi legislatif kota Surabaya.

“In Sha ALLAH kalau ada takdi saya menjadi anggota DPR, saya ingin para UKM seluruh Kota Surabaya ini dibuat data , datanya harus benar – benar real lapangan kemudian kita minta masukan kepada para UKM, apa saja masalah – masalah mereka. Mungkin bisa saya sedikit generalisir pastinya masalah permodalan, kemudian yang Kedua pastinya adalah fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, kemudian yang Ketiga peningkatan kualitas penjualannya dia”. (bi1)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here