Film How To Tell Angkat Sisi Humanisme Teroris

0
210
advertorial

Sutradara dan produser How To Tell saat berdiskusi di salah satu cafe di jalan Jemursari Surabaya. Photo : Norman Edogawa

Beritahu – Peristiwa pemboman gereja di Kota Pahlawan pada Mei 2018, tentunya masih menyisakan banyak cerita, namun pada umumnya publik mengecam aksi terorisme dan pelakunya. Hal inilah yang melatar belakangi ┬áLintassinema Surabaya, membuat film pendek berjudul How To Tell.

Film yang menceritakan sisi humanisme pelaku bom gereja di Surabaya, bukan untuk membela terorisme.  Namun untuk memberikan pandangan berbeda kepada masyarakat luas, bahwa teroris juga manusia.

“Kita mau menunjukkan kalau selama ini orang bercerita tentang teroris, selalu sudut pandangnya korban, penegak hukum atau yang berkaitan sama mereka-mereka lah. Nah kita dari cerita ini, kita coba angkat sudut pandang terorismenya, pelakunya”, kata sutradara How To Tell, Abra Merdeka.

Abra juga menambahkan, pembuatan film yang dilatar belakangi aksi terorisme ini, juga bertujuan memberikan gambaran kepada masyarakat luas. Bahwa pelaku teror juga mempunyai ketakutan tersendiri.

“Kita mau menunjukkan ke orang, ke masyarakat, bahwa teroris juga manusia. Dia juga punya perasaan takut tapi mungkin dia punya pedoman yang salah”, tambahnya.

Rio Ekananda selaku casting director How To Tel, judul film ini merupakan hasil penyaringan tim Lintassinema Surabaya, setelah memperoleh tema Unknown Side dari panitia festival film Australia, untuk membuat sebuah film yang mempunyai sudut pandang berbeda dari sebuah fenomena sosial.

“Kita tanpa bermaksud membela teroris ya, didalam manusia tu ada sisi kalau kita bisa mengaktifkan itu, akan mengcounter radikalisme itu sendiri, melawan dorongan untuk seseorang melakukan teror. Nah itu yang akan kita kupas dalam film ini”, ujar Rio.

Film pendek berdurasi 20 menit dan bergenre psikologi drama yang masih dalam proses casting untuk mencari pemain filmnya, rencananya akan mengambil lokasi syuting di kota Pahlawan. Dibuat secara swadaya oleh profesional pemuda didalam Lintassinema Surabaya. Tapi dengan hadirnya Gayatri A. Ardhinindya, Kelana Aprilianto dan Zainal Hudha Purnama sebagai executive produser. Maka film yang diproduseri Dani Satria dan Aulia Mawardhika tersebut bisa direalisasikan, dan bakal membuat bangga insan perfilman Indonesia. (bi1)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here