Berusia 70 Tahun, Inilah Wisudawan Tertua Unusa

0
226
advertorial

Beritahu – Belajar tak mengenal usia, mungkin itulah yang diterapkan Maria Lidwina Endang Suwarni.  Meski usianya menginjak 70 tahun dan cucunya juga akan diwisuda pada November mendatang, tapi  nenek ini tetap luar biasa dalam menimba ilmu. Bahkan dirinya menyandang gelar sarjana dan menjadi wisudawan tertua Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) dalam Program Studi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Maria mengaku tidak mahir berkendara, sehingga ketika berangkat kuliah selalu diantar anak sulungnya. Jika anaknya berhalangan, maka tidak ada cara lain selain naik-turun angkota minimal dua kali untuk menuju kampus. “Kadang-kadang memang ada teman yang mengajak untuk bersama-sama”, katanya. saat diwawancara sebelum acara wisuda dimulai di gedung Dyandra Convention Expo Surabaya. Rabu (11/09/2019).

Setelah dirinya akan diwisuda, Ibu dari tiga anak dan lima cucu ini merasa bersyukur karena  sang anak dipindah bekerja ke luar kota. “Saya tidak bisa membayangkan seandainya saya belum selesai kuliah, maka naik-turun angkota akan lebih sering lagi dalam usia yang sudah tak muda lagi”, tambah Maria.

Bagi Maria, apa yang telah dicapainya ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, tapi  tetap harus rendah diri dan tidak boleh sombong. Ia berharap dapat menjadi contoh untuk cucunya yang kini berjumlah lima orang. “Cucu pertama saya juga akan diwisuda pada November mendatang. Usia dan fasilitas bukan halangan buat saya, apalagi anak-anak mendorong agar saya bisa menyelesaikan kuliah”, ucap anggota tim Penggerak PKK Kelurahan Manukan ini.

Meski mendapatkan insentif yang jumlahnya sebesar Rp. 50.000 tiap bulan dari mengelola PAUD di daerahnya Manukan Kulon Surabaya. Maria tetap semangat menyelesaikan studinya hingga selesai walau usia tak lagi muda. “Kalo dari usia memang tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Lah wong insentif dari Pemkot untuk guru-guru PAUD diperuntukkan bagi mereka yang usia muda, itu pun ada yang tidak dapat. Tapi saya ingin memberi contoh bahwa tidak ada halangan untuk bisa mencapai gelar sarjana”, jelas Maria dengan bangga.

Mengharap bantuan dari PAUD dimana Maria beraktivitas, rasanya juga tidak mungkin. Sehingga ketiga anaknya turut membantu meringankan beban uang kuliah disamping mendapatkan subsidi dari Unusa.

“Beruntung SPP yang kami bayar memperoleh subsidi dari Unusa terkait program Bunda PAUD, jadi kami tidak terlalu berat dalam membayar”, katanya.

Uniknya dalam acara wisuda ini, meski Maria menjadi wisudawan tertua. Menimba ilmu di lingkungan kampus yang didominasi muslim, tidak menyurutkan semangatnya menyelesaikan studinya.

“Bagi saya tidak masalah, saya terbiasa berada dalam lingkungan yang berbeda-beda. Saya harus dapat menyesuaikan penampilan kebanyakan warga kampus”, kata Maria yang sebelum mengajar di PAUD bekerja sebagai karyawan ekspedisi bersama almarhum suaminya.

Setelah menjadi wisudawan tertua, Maria tetap berkomitmen bergerak memajukan PAUD untuk memberikan pendidikan terbaik bagi usia balita dan menjadikannya sebagai gerakan sosial.

“Saya bersama teman-teman di PAUD lebih menekankan pada kegiatan sosial, membantu sesama. Saya tetap berkomitmen untuk memajukan dan tetap setia di PAUD sebagai ladang amalan di dunia”, kata Maria yang juga aktif pada kegiatan sosial di gereja.(bi1)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here